Pelatih asal Argentina, Mauricio Pochettino, dikabarkan akan meninggalkan tim nasional Amerika Serikat setelah Piala Dunia 2026. Meski turnamen tersebut digelar di kandang sendiri, kontraknya memang hanya berlaku hingga akhir kompetisi besar itu. Perpanjangan kontrak pun disebut-sebut tidak menjadi prioritas.

Spekulasi kepindahan Pochettino semakin kuat karena ia disebut ingin kembali melatih klub di Eropa. Nama Tottenham Hotspur kembali dikaitkan dengannya, mengingat hubungan emosional yang pernah terjalin saat ia menangani klub London tersebut. Pengalaman melatih klub besar seperti Chelsea dan Paris Saint-Germain membuatnya tetap diminati di level tertinggi.
Legenda USMNT, Tab Ramos, bahkan meyakini Pochettino memang ditakdirkan kembali ke Eropa. Menurutnya, terlepas dari hasil di Piala Dunia 2026, sang pelatih kemungkinan besar akan melanjutkan karier di kompetisi elite Eropa.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Tekanan Besar Tuan Rumah Piala Dunia
Sejak mengambil alih USMNT pada September 2024, Pochettino langsung menghadapi tekanan besar. Bermain di Piala Dunia kandang sendiri tentu membawa ekspektasi tinggi. Publik Amerika berharap tim mampu melangkah jauh, setidaknya melewati fase grup dengan meyakinkan.
Skuad saat ini diisi banyak pemain yang merumput di Eropa seperti Christian Pulisic, Weston McKennie, Tyler Adams, Folarin Balogun, dan Brenden Aaronson. Kombinasi pengalaman Eropa dan usia produktif membuat banyak pihak optimistis.
Namun, Ramos mengingatkan bahwa tekanan justru bisa menjadi beban. Ia menilai tim ini belum sepenuhnya menunjukkan konsistensi dan mentalitas yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi.
Baca Juga: Sassuolo Bangkit, Raih Kemenangan Dramatis atas Udinese!
Label Generasi Emas Terlalu Dini

Istilah “Generasi Emas” sudah lama melekat pada skuad Amerika Serikat. Namun menurut Ramos, label tersebut diberikan terlalu cepat, bahkan sejak periode kualifikasi menuju Piala Dunia 2022. Ia menilai fokus jangka panjang justru mengurangi rasa urgensi dalam setiap pertandingan.
Ramos menegaskan bahwa tim nasional seharusnya selalu berorientasi pada performa saat ini. Bukan sekadar merencanakan masa depan enam atau tujuh tahun ke depan. Baginya, yang terpenting adalah menurunkan 11 pemain terbaik dan memenangkan pertandingan, bukan membangun narasi besar sebelum waktunya.
Ia juga mengungkapkan bahwa efek instan dari kedatangan Pochettino tidak langsung terasa. Butuh waktu lebih dari setahun sebelum tim benar-benar menunjukkan peningkatan mentalitas dan semangat bertanding yang khas tim Amerika.
Seperti Apa Kesuksesan di 2026
Mantan kiper timnas, Brad Friedel, memiliki pandangan realistis soal target di Piala Dunia 2026. Menurutnya, lolos dari fase grup adalah target minimal. Sementara mencapai perempat final bisa dianggap sebagai pencapaian luar biasa.
Friedel menekankan bahwa kesuksesan bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga cara tim bermain dan berjuang. Tersingkir oleh tim besar seperti Brasil atau Inggris bukanlah aib, selama tim menunjukkan kualitas dan daya saing.
Dengan talenta yang dimiliki dan pengalaman Pochettino, USMNT dinilai mampu menembus delapan besar. Namun setelah itu, faktor keberuntungan sering kali berperan. Kini, tantangannya jelas membuktikan bahwa label Generasi Emas bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan di panggung dunia. Simak terus pembahasan sepak bola terupdate lainnya hanya di footballformguide.net.
